
Pilar News (02/05/2026)- Balai Rektorat Universitas Lampung malam itu terasa berbeda (25/04), rapat organisasi yang biasa terlihat, diskusi antarmahasiswa yang memanas, seolah vakum seketika, berganti sekat antarangkatan yang perlahan melebur. Para alumni dan anggota aktif Koperasi Mahasiswa Universitas Lampung (Kopma Unila) duduk berdampingan, larut dalam tawa bersama, mengabaikan rentang waktu yang sempat memisahkan mereka.
Peringatan hari jadi Kopma Unila ini berlangsung dalam suasana yang begitu hangat. Lebih dari sekadar perayaan, acara ini sukses menjadi jembatan silaturahmi lintas generasi untuk menghidupkan kembali cerita-cerita masa lalu dan mempererat kebersamaan dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Kopma Unila sendiri telah berdiri selama 44 tahun sebagai salah satu organisasi mahasiswa berbasis kewirausahaan di Universitas Lampung yang konsisten membina anggotanya dalam pengembangan karakter dan kemandirian. Melalui tema “Merajut Kebersamaan dalam Ragam Karya sebagai Wujud Perjalanan yang Terus Bertumbuh”, perayaan ini menjadi refleksi atas perjalanan panjang organisasi yang terus bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan zaman.
Suasana semakin hidup ketika layar menampilkan potongan kisah anggota Kopma. Film yang diputar malam itu bukan sekadar dokumentasi, tetapi menjadi pengingat akan proses dan dinamika yang telah dilalui bersama. Di sela-sela itu, obrolan santai antaranggota dan alumni mengalir tanpa sekat, tentang masa lalu, pengalaman, hingga cerita-cerita kecil yang justru menjadi pengikat kebersamaan.
Bagi Azzahra Hafidatuzzahri Walmisr, Kopma memiliki arti yang lebih dari sekadar organisasi. “Kopma itu rumah kedua aku,” ujarnya. Ia mengenang berbagai momen kepanitiaan yang dijalani bersama anggota lain. Lelah yang terasa, namun selalu terbayar dengan kebersamaan. Di sana, setiap individu tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas, tetapi juga dirangkul dan dibimbing dalam prosesnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Zakiah Rahmatika Salisah. Ia melihat Kopma sebagai ruang yang membentuk dirinya secara utuh. “Aku yang sekarang bisa seberani ini dalam melangkah itu juga sebagian karena Kopma,” ungkapnya. Berbagai pengalaman yang sebelumnya belum pernah ia jalani, perlahan menjadi bagian dari proses belajar yang membentuk cara berpikir dan kepercayaan dirinya.
Di balik kebersamaan itu, dinamika organisasi tetap berjalan. Perbedaan pendapat, hingga tekanan tanggung jawab masih tetap terasa. Namun justru dari situlah Kopma menempa anggotanya, membentuk ketahanan dan rasa memiliki yang tidak mudah tergantikan.
Di balik kehangatan dan obrolan yang mengalir malam itu, tersimpan makna yang lebih dalam tentang apa yang sebenarnya dirayakan. Dalam sambutannya, Rektor Universitas Lampung, Lusmeilia Afriani, menegaskan bahwa Kopma bukan sekadar wadah kegiatan ekonomi mahasiswa, melainkan ruang pembelajaran yang membentuk karakter. Di dalamnya, mahasiswa didorong untuk berani mencoba, memiliki jiwa kewirausahaan, serta tidak takut menghadapi kegagalan sebagai bagian dari proses.
Keberlangsungan Kopma hingga menyentuh angka 44 ini menjadi bukti bahwa kopma unila mampu menjaga konsistensi di tengah dinamika organisasi kampus. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk alumni dan pemangku kepentingan, turut memperkuat eksistensinya sebagai ruang yang tidak hanya relevan, tetapi juga berdampak.
Di usia yang tidak lagi muda, Kopma Unila tidak hanya berbicara tentang bertahan. Ia terus bergerak, beradaptasi, dan tumbuh, mengikuti perubahan tanpa kehilangan jati dirinya. “Kopma itu rumah kedua aku.” Barangkali, dari situlah semua bermula. Sebuah organisasi yang tidak hanya menjadi tempat berproses, tetapi juga tempat pulang bagi mereka yang pernah tumbuh di dalamnya.
Teks: Reno Khairul Mubin