
Pilar News (28/05/2026) – Lokakarya Badan Ekseskutif Mahasiswa Universitas (BEM U) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Lampung Periode 2026 yang diinisiasi oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPM U) pada sabtu (25/04) urung berjalan mulus. Forum strategis yang seharusnya menjadi ajang krusial untuk menggodok arah gerak BEM U ini justru diwarnai oleh kelemahan manajerial penyelenggara, mulai dari molornya jadwal hingga carut marut kepastian lokasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kegiatan yang semula dijadwalkan mulai pukul 08.00 WIB baru dapat dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB. Keterlambatan satu jam ini bukan tanpa alasan, melainkan imbas dari penyesuaian teknis dan kepanitiaan DPM U yang gagap dalam mengamankan perizinan tempat.
Ketua Pelaksana Lokakarya, Reza Trianggara, mengakui bahwa kendala utama acara ini berakar dari ketidakpastian lokasi sejak awal perencanaan. Ia menyebutkan, panitia sempat merencanakan pelaksanaan di Fakultas Pertanian, kemudian berpindah ke FKIP, sebelum akhirnya berlabuh di Gedung D1 Fakultas Hukum Unila.
“Untuk kendala, kami lebih ke tempat sebenarnya. Pertama harusnya di pertanian, terus ke FKIP,” ujar Reza.
Perpindahan lokasi yang berulang ini memunculkan tanda tanya terkait kapasitas lobi birokrasi dan manajemen waktu panitia penyelenggara. Reza memaparkan, persiapan acara ini terkendala oleh singkatnya waktu yang tersedia. “Kami ada di tiga minggu sebenarnya, memang mepet,” tambahnya.
Namun, persiapan yang “mepet” tersebut pada akhirnya harus dibayar dengan mengorbankan kenyamanan forum. Di lokasi final di Gedung D1 Fakultas Hukum, kondisi ruangan dirasa kurang kondusif. Suasana ruangan yang panas meskipun telah dilengkapi unit pendingin udara turut menjadi keluhan, yang secara tidak langsung berpotensi memecah fokus peserta dalam membahas Rencana Strategis (Renstra) BEM U ke depan.
Dinamika pelaksanaan lokakarya ini menjadi ironi tersendiri dalam tata kelola kelembagaan. DPM U, yang seharusnya memosisikan diri sebagai lembaga pengawas dengan standar manajerial yang matang, justru menunjukkan inefisiensi teknis dalam menyelenggarakan forum sekelas universitas. Hal ini menjadi paradoks di tengah upaya BEM U yang sedang menekankan efisiensi dalam setiap program kerjanya.
Text: Reno Khairul Mubin | Editor: Aris Krisna Setiawan
