
Pilar Ekonomi (23/09/2026) – Dua perkembangan baru menambah babak lanjutan dari status kredit dan pasar modal Indonesia yang sempat mendapat sinyal positif dari S&P Global Ratings pada Juli lalu. Menteri Keuangan yang baru dilantik, Suahasil Nazara, menegaskan komitmen disiplin fiskal Pemerintah dalam dua pernyataan resminya pekan lalu, sementara penyedia indeks saham global MSCI memastikan freeze MSCI atas pasar saham Indonesia belum dicabut usai review indeks Agustus 2026.
Sebagaimana pernah diulas Pilar Ekonomi pada 19 Juli lalu , S&P dalam laporan resminya mengafirmasi peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil pada 13 Juli 2026. Sementara itu, Moody’s Rating dalam rilis resminya pada 5 Februari 2026 dan Fitch Ratings dalam laporan yang dirilis 4 Maret 2026, seperti dikutip Bloomberg dan IDN Financials, masing-masing menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif meski tetap mempertahankan peringkat setingkat BBB.
Lainnya:
Rating Kredit Indonesia Aman, tapi Sampai Kapan?
MSCI sendiri, dalam pengumuman resmi 24 Juni 2026 yang dilaporkan IDN Financials, memutuskan mempertahankan status emerging market Indonesia, namun memperpanjang masa pengawasan hingga review indeks November 2026. Hingga pertengahan September, ketiga lembaga pemeringkat utang tersebut belum mengubah posisi masing-masing menurut penelusuran redaksi terhadap publikasi resmi mereka.
Freeze MSCI Indonesia Masih Berlanjut
Dalam review indeks yang diumumkan MSCI pada 12 Agustus 2026 dan berlaku efektif 31 Agustus, lembaga itu memastikan seluruh kebijakan pembatasan terhadap pasar saham Indonesia tetap berlaku, termasuk pembekuan Foreign Inclusion Factor dan metodologi jumlah saham yang menentukan bobot Indonesia dalam indeks global. Direktur Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengonfirmasi status tersebut belum dicabut kendati BEI mengklaim terus memperluas kewajiban keterbukaan pemegang saham sebagai bagian dari reformasi yang diminta MSCI, sebagaimana dikutip Monitor Indonesia pada 13 Agustus 2026.
Menurut catatan riset Rikopedia Research yang dipublikasikan 13 Agustus 2026, implementasi rebalancing itu sekaligus memicu estimasi arus keluar dana asing sekitar 753 juta dolar AS dari saham-saham Indonesia. Rikopedia mencatat penyebab utamanya adalah penghapusan penuh saham GOTO dari kategori Standard Cap yang menyumbang outflow sekitar 407 juta dolar AS, serta penurunan status saham CPIN dari Standard Cap ke Small Cap yang turut menambah tekanan jual. Keputusan final soal status emerging market Indonesia, apakah dipertahankan atau dikonsultasikan turun ke frontier market, baru akan diambil MSCI pada review indeks November 2026.
Suahasil Tegaskan Disiplin Fiskal
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan sebelumnya yang sempat menyampaikan keterangan resmi soal afirmasi peringkat S&P pada Juli lalu, kini telah resmi dicopot dari jabatannya pada 14 September 2026 setelah menjabat sejak 8 September 2025. Posisinya digantikan oleh Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Dalam pernyataan pertamanya pada konferensi pers pasca pelantikan, Suahasil menegaskan “Anggaran negara harus tetap kredibel, dan mempertahankan proyeksi defisit anggaran 2026 di angka 2,85 persen terhadap PDB, dengan realisasi defisit Januari-Agustus 2026 tercatat 0,93 persen PDB atau Rp240,1 triliun. Menurut laporan devdiscourse, pendapatan negara sepanjang Januari–Agustus 2026 tumbuh 25,4 persen secara tahunan menjadi Rp2.055,6 triliun, sementara belanja negara tumbuh 17,1 persen menjadi Rp2.295,7 triliun. Tiga hari berselang, dalam pelantikan sejumlah pejabat Kementerian Keuangan pada Senin, 21 September 2026, Suahasil kembali menegaskan keseimbangan antara penerimaan, belanja, dan pembiayaan negara, “APBN akan terus melindungi, APBN akan terus menumbuhkan,”.
Bagaimana Pasar Merespons?
Indikator pasar keuangan domestik pekan ini belum menunjukkan penguatan yang meyakinkan. Menurut Databoks Katadata, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73 pada perdagangan Senin, 21 September 2026, dengan delapan dari sebelas sektor mencatat koreksi, dipimpin sektor infrastruktur. Indeks itu kemudian berbalik menguat tipis 0,12 persen ke level 6.392 pada pembukaan sesi pertama Selasa (22/9), seperti dilaporkan CNBC Indonesia. Nilai tukar rupiah pada Senin (21/09) melemah 0,51 persen ke posisi Rp17.830 per dolar AS, tertekan penguatan dolar AS di pasar Eropa serta pelemahan bursa Wall Street. Pada perdagangan Selasa (22/09), rupiah kembali melemah menjadi Rp 17.816.
S&P sendiri menyebutkan bahwa peluang kenaikan peringkat kredit Indonesia ke depan bergantung pada penyempitan defisit anggaran mendekati 2 persen terhadap PDB, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, penurunan biaya pembiayaan pemerintah, serta stabilitas nilai tukar rupiah. Proyeksi defisit 2,85 persen PDB yang dipertahankan Suahasil masih berada di atas ambang tersebut, meski pertumbuhan penerimaan negara 25,4 persen pada Januari–Agustus menunjukkan arah yang sejalan dengan salah satu syarat itu.
Sebaliknya, MSCI menegaskan bahwa freeze MSCI atas pasar saham Indonesia baru berpotensi dicabut jika konsistensi implementasi reformasi pasar modal terbukti hingga tenggat November 2026, terlepas dari bagaimana pandangan lembaga pemeringkat utang terhadap Indonesia.
Teks: Aris Krisna Setiawan
