
Bandar Lampung, 21 November 2025 – Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump dikabarkan mulai mempertimbangkan untuk menunda implementasi tarif besar terhadap impor semikonduktor atau chip. Walau sebelumnya kebijakan ini digembar-gemborkan akan segera berlaku, sejumlah pejabat kini memberi sinyal bahwa pelaksanaannya mungkin tidak dilakukan dalam waktu dekat.
Dikutip dari Reuters, beberapa pejabat AS dalam beberapa hari terakhir telah menyampaikan informasi tersebut kepada pihak industri dan sejumlah pemangku kepentingan. Pernyataan ini disampaikan oleh tiga sumber yang mengetahui langsung situasi tersebut dan satu sumber lain yang mendapat penjelasan mengenai pembicaraan internal pemerintah.
Pertimbangan Politik dan Ekonomi terhadap China
Sumber lain menyebutkan, kini pemerintahan Trump mengambil langkah lebih berhati-hati untuk menghindari gesekan dengan China. Kekhawatiran muncul karena kebijakan tarif yang terlalu agresif dapat memicu kembali perang dagang, termasuk potensi gangguan terhadap pasokan mineral tanah jarang yang sangat vital bagi industri teknologi global.
Meski begitu, para sumber Reuters mengingatkan bahwa belum ada keputusan final. Mereka juga menekankan bahwa tarif dengan besaran tiga digit tersebut tetap bisa diberlakukan kapan saja, bergantung pada keputusan akhir pemerintah.
Pada bulan Agustus lalu, Trump menyampaikan bahwa AS berencana mengenakan tarif sekitar 100% terhadap impor chip, tetapi perusahaan yang memproduksi di dalam negeri atau berkomitmen membangun fasilitas di AS akan dikecualikan
Tetapi meski selama beberapa bulan terakhir para pejabat AS memberi sinyal tarif akan segera diberlakukan, arahan tersebut berubah seiring pembahasan mengenai waktu dan teknis penerapannya yang kemudian dianggap belum matang.
Gedung Putih Menolak Anggapan Perubahan Kebijakan
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, membantah keras jika pemerintah telah mengubah posisinya. Ia kembali menegaskan komitmen pemerintahan Trump untuk memperkuat sektor manufaktur yang strategis bagi keamanan negara. “Menggunakan setiap kekuasaan eksekutif untuk memulihkan sektor manufaktur yang penting bagi keamanan nasional dan ekonomi kita,” kata Kush Desai.
“Laporan anonim apa pun yang menyatakan sebaliknya hanyalah berita palsu,” ia menegaskan. Pejabat di Kementerian Perdagangan juga mengatakan bahwa tidak ada perubahan pada kebijakan terkait tarif semikonduktor 232, meskipun tidak memberikan rincian mengenai kapan tarif tersebut akan mulai berlaku.
China Mendorong Kerja Sama
Kedutaan Besar China di Washington menyampaikan bahwa secara sinergis, sektor semikonduktor merupakan pilihan terbaik bagi kedua negara. Juru bicara Liu Pengyu mengatakan kerja sama adalah jalan untuk menjaga stabilitas rantai pasok global dan menerapkan kesepakatan dari pertemuan puncak kedua kepala negara di Busan.
“Kami menyambut baik upaya AS untuk bekerja sama dengan China dalam mengimplementasikan konsensus yang dicapai pada pertemuan puncak di Busan antara kedua kepala negara, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kerja sama yang saling menguntungkan antara perusahaan dari kedua belah pihak, dan bersama-sama menjaga stabilitas rantai pasokan semikonduktor global,” kata Liu Pengyu.
Ketidakpastian Masih Menggantung
Hingga saat ini, arah kebijakan tarif chip AS masih belum jelas. Industri teknologi global menunggu langkah final pemerintah Trump, mengingat keputusan tersebut bisa berdampak signifikan terhadap harga chip, investasi manufaktur, hingga dinamika perdagangan AS – China.
Sementara itu, pemerintahan Trump terus menimbang dampak ekonomi dan geopolitik dari kebijakan tersebut sebelum menentukan kapan tarif besar itu akan dijalankan.
Penulis: Ahmad Verlyansyah
Penyunting: Khadijah Raihan