Krisis Ekonomi Memuncak, Gelombang Protes Kembali Guncang Iran

Bandar Lampung, Sabtu (17/01/2026)

Gelombang protes kembali melanda Iran di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan. Anjloknya nilai mata uang rial ke titik terendah, inflasi yang melampaui 42 persen, serta tekanan biaya hidup memicu kemarahan publik. Penutupan sekolah dan kantor pemerintah demi penghematan energi turut memperparah situasi.

Aksi yang bermula dari mogok pedagang di Teheran pada 28 Desember berkembang dengan bergabungnya mahasiswa dan meluas dari tuntutan ekonomi menjadi ketidakpuasan politik. Para demonstran mengkritik pemerintah dan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, sementara aparat keamanan dilaporkan menggunakan gas air mata dan peluru plastik untuk membubarkan massa.

Kasra Qaredaghi, mahasiswa doktoral di bidang ilmu politik di Universitas Central Florida, Amerika Serikat, mengatakan bahwa protes semacam ini kerap berawal dari persoalan ekonomi.

“Ketika biaya hidup melonjak, tetapi pendapatan dan keamanan kerja tidak seimbang, keluhan tentang mata pencaharian dengan cepat berubah menjadi ketidakpuasan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa krisis ini terjadi saat kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan menciptakan stabilitas telah terkikis.

Sementara itu, jurnalis dan aktivis politik Adnan Hassanpour menilai tumpukan masalah ekonomi menjadi pemicu utama keresahan.

“Semua tumpukan masalah ini, ditambah stagflasi, telah membuat kehidupan sangat sulit bagi masyarakat dan memicu keresahan saat ini,” katanya.

Pemerintah Iran merespons dengan mengganti kepala bank sentral dan menjanjikan dialog, namun juga memperingatkan akan adanya tindakan keras jika protes berujung kerusuhan.

Teks: Harry Pangestu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *