Temukan Indikasi Kecurangan, Koalisi Satu Cita Tolak Hasil Pemira Unila 2025

Bandar Lampung, Selasa (23/12/2025)

Koalisi Satu Cita secara resmi menyatakan penolakan terhadap hasil Pemira Universitas Lampung 2025. Sikap ini diambil setelah tim pemenangan menemukan sejumlah indikasi kecurangan serta pelanggaran prosedural yang dinilai mencederai demokrasi mahasiswa.

Penolakan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Tim Pemenangan pasangan calon nomor urut 01, Muhamad Zidan Al Zakri. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan Pemira tahun ini tidak berjalan sesuai dengan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

“Pemira seharusnya menjadi pesta demokrasi mahasiswa yang bermartabat. Namun apa yang kami temukan di lapangan justru menunjukkan banyak kejanggalan serius. Atas dasar itu, Koalisi Satu Cita dengan tegas menolak hasil Pemira Unila 2025,” ujar Zidan.

Salah satu indikasi kecurangan paling mencolok, kata Zidan, terjadi di Fakultas Teknik. Berdasarkan laporan saksi serta dokumentasi video yang beredar di kalangan mahasiswa, terlihat seorang pemilih telah mencelupkan jarinya ke tinta sebagai tanda telah menggunakan hak pilih, namun masih kembali mengantre untuk melakukan pencoblosan ulang.

“Jarinya sudah bertinta biru, yang artinya ia sudah memilih. Tapi masih berada di antrean pemilih. Ini menimbulkan dugaan serius, apakah terjadi penggunaan KTM orang lain atau absensi ganda. Kami masih mendalami, tetapi bukti visualnya sangat kuat,” tegasnya.

Sebagai bentuk sikap penolakan, Tim Pemenangan Paslon 01 memutuskan menarik seluruh saksi dari Fakultas Teknik. Langkah ini, menurut Zidan, diambil agar pihaknya tidak ikut melegitimasi proses Pemira yang dinilai telah kehilangan integritas.

Namun, dalam proses penarikan saksi tersebut, tim mengaku mendapat perlakuan tidak pantas. Bahkan, terdapat dugaan tekanan serta intimidasi yang melibatkan oknum dari Bapra, Panra, dan DPM, hingga teror dari pihak tak dikenal terhadap saksi di lapangan.

“Alih-alih mendapatkan perlindungan, saksi kami justru mengalami tekanan. Intimidasi dalam bentuk apa pun adalah ancaman serius bagi demokrasi kampus,” tegas Zidan.

Koalisi Satu Cita menegaskan akan menempuh jalur hukum dan mekanisme resmi yang tersedia untuk mengawal seluruh temuan tersebut. Penolakan hasil Pemira ini, menurut Zidan, bukan bertujuan menciptakan kegaduhan, melainkan sebagai upaya menjaga marwah demokrasi mahasiswa Universitas Lampung.

“Kami akan mengawal persoalan ini sampai tuntas. Pemira harus jujur, adil, dan bermartabat. Jika pelanggaran seperti ini dibiarkan, maka demokrasi kampus akan rusak di masa depan,” pungkasnya.

Teks: Andri Bagas Irawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *